BREAKING NEWS

Gerak Cepat Kemenkes Siapkan 198 RS Jejaring Untuk Antisipasi Hantavirus

Kementerian Kesehatan (Kemenkes) Republik Indonesia, (google)

Jaladrinews.id -Dalam rangka memperkuat deteksi dini serta pencegahan terkait penangangan kasus hantavirus di Indonesia, Kementerian Kesehatan (Kemenkes) menyiagakan 198 rumah sakit jejaring Penyakit Infeksi Emerging, yang dimana hingga kini tercatat sebanyak 23 kasus konfirmasi di sembilan provinsi.

Dalam keterangannya Kepala Biro Komunikasi dan Informasi Publik Kementerian Kesehatan Aji Muhawarman mengatakan, pemerintah juga memperkuat surveilans melalui skrining di pintu masuk negara, investigasi epidemiologi, serta pemantauan di 21 rumah sakit sentinel.

“Hingga Minggu Epidemiologi ke-16 Tahun 2026, Indonesia mencatat 23 kasus konfirmasi di sembilan provinsi, dengan kasus terbanyak di DKI Jakarta dan DI Yogyakarta,” kata Aji dikutip dari Rakyat Merdeka, Sabtu (9/5/2026)

Ia menjelaskan seluruh kasus di Indonesia merupakan tipe Hemorrhagic Fever with Renal Syndrome (HFRS) atau Seoul Virus yang menyerang ginjal, berbeda dengan tipe Hantavirus Pulmonary Syndrome (HPS) yang banyak ditemukan di kawasan Amerika Selatan.

Menurut dia, virus hanta merupakan penyakit zoonosis yang ditularkan dari tikus atau celurut melalui urin, feses, saliva, gigitan, maupun debu terkontaminasi yang terhirup. Penularan antarmanusia disebut sangat jarang dan terbatas pada tipe tertentu.

“Penyakit ini memiliki dua bentuk klinis, yaitu HFRS yang menyerang ginjal dan HPS yang menyerang sistem pernapasan, dengan gejala awal demam, nyeri otot, sakit kepala, dan lemas,” ujarnya.

Aji menuturkan risiko penularan lebih tinggi pada masyarakat yang beraktivitas di area dengan populasi tikus tinggi, seperti gudang lama, saluran air, lahan terbengkalai, dan lingkungan kerja tertentu.

Secara global, kasus hantavirus banyak dilaporkan di Eropa, Asia, dan Amerika Serikat. Tipe HFRS dominan di kawasan Asia dan Eropa, sedangkan tipe HPS lebih banyak ditemukan di Amerika Serikat dan Amerika Selatan.

Kemenkes juga memantau kluster HPS pada kapal pesiar MV Hondius yang berangkat dari Argentina dengan dua kasus konfirmasi dan lima kasus suspek.

“WHO menilai risiko penyebaran global tetap rendah dan belum merekomendasikan pembatasan perjalanan internasional,” kata Aji.

Ia menambahkan, dari total kasus di Indonesia terdapat tiga kematian, namun seluruhnya berkaitan dengan ko-infeksi atau penyakit penyerta dan bukan akibat langsung virus hanta. Dua kasus suspek terakhir juga telah dinyatakan negatif dan sembuh.

Selain menyiagakan rumah sakit, laboratorium rujukan nasional disebut siap melakukan pemeriksaan RT-PCR dan Whole Genome Sequencing (WGS) untuk mendukung deteksi dini.

“Kementerian Kesehatan terus memantau perkembangan situasi nasional dan global serta memastikan kesiapsiagaan nasional dalam deteksi dini serta respons cepat,” ujarnya.

Kemenkes mengimbau masyarakat menjaga kebersihan lingkungan, menutup akses masuk tikus, serta menyimpan makanan dalam wadah tertutup. Pembersihan area berdebu juga disarankan menggunakan metode wet cleaning dan tidak dilakukan dengan menyapu kering.

Kemenkes juga menghimbau agar masyarakat juga diminta rutin mencuci tangan menggunakan sabun sebelum dan sesudah beraktivitas serta segera memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan apabila mengalami demam, nyeri otot, atau gangguan pernapasan setelah kontak dengan area maupun hewan berisiko.

Sumber: RM.id 

Berita Terbaru
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
Posting Komentar