BREAKING NEWS

AHY Dorong Indonesia Jadi Kekuatan Menengah Berpengaruh di Tengah Rivalitas Global

Menko Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) dalam Konvensi Nasional XVII Asosiasi Ilmu Hubungan Internasional Indonesia (AIHII) di President University, Jababeka, Cikarang, Jabar. Foto/Istimewa


CIKARANG, JaladriNews — Menteri Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan Agus Harimurti Yudhoyono mendorong Indonesia memperkuat posisinya sebagai influential middle power, yakni negara berkekuatan menengah yang memiliki pengaruh nyata dalam dinamika regional maupun global.

Gagasan tersebut disampaikan AHY dalam Konvensi Nasional XVII Asosiasi Ilmu Hubungan Internasional Indonesia (AIHII) di President University, Jababeka, Cikarang, Jawa Barat, pada 13 Oktober 2026. Ia menilai perubahan geopolitik dunia menuntut Indonesia menjalankan politik luar negeri bebas aktif secara lebih substantif.

Persaingan antara Amerika Serikat dan China, perubahan pola aliansi, serta munculnya kekuatan-kekuatan baru menjadi tantangan yang perlu direspons melalui diplomasi yang luwes tanpa mengorbankan kemandirian dalam mengambil keputusan.

Menurut AHY, prinsip bebas aktif bukan berarti Indonesia harus menjauh dari dinamika internasional atau sekadar mengambil posisi netral. Indonesia justru perlu membangun kerja sama dengan beragam negara sekaligus memastikan setiap keputusan tetap berlandaskan kepentingan nasional.

Kapasitas nasional menjadi fondasi pengaruh

AHY menekankan bahwa luas wilayah, jumlah penduduk, dan kekayaan sumber daya alam belum cukup untuk menjadikan Indonesia sebagai negara yang diperhitungkan dalam hubungan internasional. Potensi tersebut perlu ditopang kemampuan nasional yang kuat dan kontribusi nyata terhadap persoalan global.

Sejumlah sektor yang dinilai perlu diperkuat meliputi fundamental ekonomi, penguasaan teknologi, pertahanan, kualitas diplomasi, serta kepemimpinan Indonesia di ASEAN dan berbagai forum multilateral.

Dengan fondasi tersebut, Indonesia diharapkan tidak hanya menjadi peserta dalam perundingan internasional, tetapi juga mampu ikut memengaruhi pembentukan agenda, mendorong kerja sama, dan berkontribusi terhadap stabilitas serta perdamaian dunia.

Pandangan itu menempatkan penguatan di dalam negeri sebagai bagian penting dari strategi luar negeri. Kapasitas ekonomi dan teknologi, misalnya, dapat mendukung daya tawar Indonesia dalam menjalin kemitraan dan menghadapi perubahan tatanan ekonomi global.

Indonesia diharapkan menjadi jembatan dialog

Selain memperkuat kemampuan nasional, AHY menyoroti peluang Indonesia untuk mengambil peran sebagai bridge builder atau penghubung kepentingan berbagai pihak. Peran tersebut mencakup menjembatani negara maju dan berkembang, kekuatan-kekuatan besar, serta negara-negara yang tergabung dalam kelompok Global South.

Di tengah dunia yang semakin terfragmentasi, kemampuan membangun dialog dan kepercayaan dinilai dapat menjadi modal diplomasi Indonesia. Pendekatan tersebut juga sejalan dengan prinsip bebas aktif yang memberi ruang bagi Indonesia untuk menjalin hubungan dengan berbagai mitra tanpa kehilangan independensi.

AHY turut menekankan pentingnya kontribusi pemikiran akademisi dalam memperkuat arah kebijakan luar negeri. Ia mengapresiasi peran AIHII sebagai wadah akademisi dan praktisi hubungan internasional serta berharap kajian strategis dari kalangan perguruan tinggi dapat mendukung kualitas diplomasi Indonesia.

Konvensi Nasional XVII AIHII tersebut dihadiri Rektor President University Handa Satyanugraha Abidin, Ketua Umum AIHII Agus Haryanto, serta sekitar 200 peserta yang terdiri atas guru besar, dosen, dan peneliti ilmu hubungan internasional dari 61 universitas di Indonesia.

Dorongan untuk menjadi influential middle power pada akhirnya menempatkan dua agenda dalam satu kesatuan: memperkuat kemampuan nasional dan meningkatkan kontribusi Indonesia di tingkat internasional. Gagasan tersebut menegaskan arah yang ingin didorong AHY, sementara pencapaiannya bergantung pada konsistensi kebijakan, kapasitas institusi, dan hasil nyata diplomasi Indonesia.

Berita Terbaru
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
Posting Komentar