IHSG Rebound 0,29% ke Level 5.943, Aksi Beli Saham Murah Dorong Penguatan

Ketua DPR Puan Maharani menyoroti kelangkaan bahan bakar minyak (BBM) di Bali yang menyebabkan warga antre hingga berjam-jam di SPBU, Rabu (14/10/2026). Foto/DOk.SindoNews
JAKARTA, JaladriNews — Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) kembali menguat pada penutupan perdagangan Rabu, 14 Oktober 2026. Indeks naik 17,04 poin atau 0,29% ke posisi 5.943,02 setelah mengalami pelemahan selama dua sesi perdagangan sebelumnya.
Penguatan ini terjadi ketika pelaku pasar mulai melakukan bargain hunting, yakni membeli saham yang dinilai telah berada pada harga menarik setelah mengalami koreksi. Sebelumnya, pasar saham Indonesia sempat menyentuh level terendah dalam tiga bulan terakhir.
Mengacu pada data perdagangan yang dilaporkan ANTARA, IHSG bergerak di zona positif hingga penutupan. Indeks LQ45 yang mencerminkan pergerakan 45 saham unggulan juga naik 5,40 poin atau 0,92% menjadi 594,59.
Meski indeks utama berakhir menguat, pergerakan saham secara individual masih menunjukkan tekanan. Data ANTARA mencatat 291 saham menguat, 342 saham melemah, dan 330 saham tidak mengalami perubahan harga.
Sektor teknologi memimpin penguatan
Berdasarkan klasifikasi sektoral IDX-IC, sektor teknologi mencatat kenaikan terbesar, yakni 2,76%. Sektor properti menyusul dengan penguatan 1,78%, sedangkan sektor barang konsumen primer naik 0,41%.
Sebaliknya, sektor barang konsumen non-primer mengalami penurunan terdalam sebesar 0,72%. Sektor energi melemah 0,59%, sementara sektor infrastruktur turun 0,19%.
Perbedaan pergerakan tersebut memperlihatkan bahwa penguatan IHSG tidak berlangsung merata pada seluruh sektor. Karena itu, kenaikan indeks pada satu hari perdagangan belum dengan sendirinya menunjukkan bahwa tekanan pasar telah berakhir.
Frekuensi transaksi saham tercatat sekitar 1,47 juta kali, dengan volume perdagangan 30,05 miliar saham dan nilai transaksi mencapai Rp11,22 triliun.
Investor mencermati sentimen global
Dari luar negeri, pelaku pasar turut memperhatikan arah kebijakan suku bunga bank sentral Amerika Serikat atau Federal Reserve (The Fed), serta perkembangan data inflasi AS. Kedua faktor tersebut menjadi perhatian karena dapat memengaruhi ekspektasi suku bunga, arus modal, dan keputusan investasi di pasar keuangan.
Selain itu, Dana Moneter Internasional (IMF) menaikkan proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2026 menjadi 5,1%, dari perkiraan sebelumnya sebesar 5,0%. Proyeksi tersebut menjadi salah satu informasi yang dicermati pasar dalam menilai prospek ekonomi domestik.
Namun, sentimen positif tersebut tetap berhadapan dengan ketidakpastian eksternal dan perbedaan kinerja antarsaham. Investor perlu mencermati perkembangan berikutnya sebelum menyimpulkan apakah rebound ini dapat berlanjut.
Dengan penutupan di level 5.943,02, IHSG berhasil mengakhiri perdagangan dalam zona hijau. Pergerakan pada sesi-sesi berikutnya akan menjadi perhatian untuk melihat keberlanjutan pemulihan indeks setelah tekanan yang terjadi sebelumnya.