Kalteng Catat 1.135 Hotspot Karhutla, Kemenhut Kerahkan 61 Armada Udara

Petugas pemadam kebakaran memadamkan kebakaran hutan pada lahan gambut seluas lebih dari 100 hektar) di Pulang Pisau, Provinsi Kalimantan Tengah, Indonesia, Jumat, 31 Juli 2026. (AFP/ Reina)
JAKARTA, JaladriNews — Kalimantan Tengah mencatat jumlah titik panas atau hotspot berstatus high confidence tertinggi di antara wilayah prioritas penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Berdasarkan data Sistem Pemantauan Karhutla (SiPongi) Kementerian Kehutanan yang dikutip pada Rabu (14/10/2026), jumlahnya mencapai 1.135 titik dalam periode pemantauan 24 jam.
Angka tersebut menjadi perhatian karena kebakaran hutan dan lahan masih ditangani di sejumlah wilayah Indonesia. Pemerintah terus memperkuat pemantauan serta operasi pemadaman melalui jalur darat dan udara untuk mencegah penyebaran api.
Selain Kalimantan Tengah, data yang diberitakan Liputan6 mencatat 193 titik panas di Sumatera Selatan, 138 titik di Kalimantan Barat, 99 titik di Kalimantan Selatan, 21 titik di Jambi, dan 15 titik di Kalimantan Timur. Riau tidak mencatat titik panas dalam kategori kepercayaan tinggi pada periode yang sama.
Jika digabungkan, enam wilayah prioritas tersebut mencatat 1.601 titik panas berstatus high confidence. Kalimantan Tengah menyumbang sekitar 70,9 persen dari jumlah tersebut.
Kemenhut siagakan 61 armada udara
Kementerian Kehutanan menyatakan mengerahkan 61 unit armada udara untuk mendukung pengendalian karhutla. Dari jumlah tersebut, 17 unit dialokasikan untuk patroli dan operasi modifikasi cuaca, sedangkan 44 unit lainnya digunakan untuk pemadaman melalui water bombing.
Sebanyak 55 unit armada diarahkan ke enam provinsi prioritas penanganan karhutla. Enam unit lainnya digunakan untuk operasi water bombing di luar wilayah prioritas.
Operasi udara tersebut berjalan bersama penanganan di darat. Tim gabungan melakukan patroli, pemeriksaan langsung terhadap indikasi titik panas, pemadaman, pembasahan lahan, hingga pendinginan area yang telah terbakar.
Penanganan khusus juga diperlukan di kawasan gambut. Api dapat bertahan dan menjalar di bawah permukaan tanah meskipun kobaran di permukaan sudah tidak terlihat. Karena itu, proses pembasahan dan pendinginan perlu dilakukan secara menyeluruh untuk mengurangi risiko munculnya kembali titik api.
Upaya pengendalian melibatkan Manggala Agni Kementerian Kehutanan bersama BNPB, TNI, Polri, BMKG, BPBD, pemerintah daerah, masyarakat, serta pihak terkait lainnya.
Hotspot tidak selalu berarti satu kejadian kebakaran
Kementerian Kehutanan menegaskan bahwa hotspot merupakan indikasi anomali suhu permukaan yang terdeteksi melalui satelit. Data ini membantu petugas mengidentifikasi wilayah yang perlu diperiksa, tetapi tidak dapat langsung disamakan dengan jumlah kejadian kebakaran maupun luas lahan yang terbakar.
Satu kejadian kebakaran dapat terdeteksi sebagai beberapa titik panas. Oleh karena itu, temuan satelit harus ditindaklanjuti melalui verifikasi lapangan atau ground check untuk memastikan apakah benar terdapat kebakaran dan menentukan penanganan yang diperlukan.
Pemantauan SiPongi menggunakan data dari satelit Terra/Aqua, SNPP, dan NOAA-20. Perbedaan sumber pemantauan serta periode pengambilan data dapat memengaruhi angka yang tercatat. Untuk membaca perkembangan karhutla secara akurat, jumlah titik panas perlu dilihat bersama waktu pembaruan dan tingkat kepercayaan deteksinya.
Data tersebut juga tidak boleh dipahami sebagai angka luas wilayah yang terbakar. Penilaian luas kebakaran membutuhkan informasi dan verifikasi tambahan di lapangan.
Kualitas udara dan keselamatan masyarakat tetap diperhatikan
Selain pengendalian api, pemerintah memantau kualitas udara karena asap karhutla dapat mengganggu aktivitas dan kesehatan masyarakat. Konsentrasi partikel halus PM2,5 menjadi salah satu indikator yang digunakan untuk menilai kondisi udara.
Kualitas udara dapat berubah mengikuti perkembangan kebakaran, arah dan kecepatan angin, serta kondisi atmosfer. Masyarakat di wilayah terdampak disarankan mengikuti informasi resmi dari pemerintah daerah dan instansi terkait.
Apabila kualitas udara memburuk, masyarakat dapat mengurangi aktivitas di luar ruangan dan menggunakan masker ketika harus beraktivitas di luar. Anak-anak, ibu hamil, lanjut usia, serta orang dengan gangguan pernapasan perlu mendapat perhatian khusus.
Kementerian Kehutanan juga mengimbau masyarakat dan pelaku usaha agar tidak membuka atau membersihkan lahan dengan cara membakar. Pencegahan kebakaran, deteksi dini, dan pelaporan cepat menjadi bagian penting untuk mengurangi risiko meluasnya karhutla.
Dengan kondisi titik panas yang dapat berubah dari hari ke hari, pemantauan berkelanjutan dan verifikasi lapangan tetap diperlukan. Pemerintah diharapkan memastikan operasi pemadaman dan pencegahan berjalan sesuai perkembangan kondisi di setiap wilayah.